Jumat, 11 Juni 2010

UNTUK SAHABAT-SAHABAT KU


Aku
Ingin berterima kasih sekali lagi pada kalian, karena telah mencintaiku
Walaupun
Waktu telah berlalu, dimana bertahun-tahun kita telah jadi satu
Tidak ada penjelasan karena kita semua mengerti
Tak ingin apa-apa lagi

Dunia ku terasa lebih terang karena kalian ada di sisi ku
Dan membuat hari – hari ku jadi mungkin

Kalian adalah inspirasi ku
Kalian adalah api yang menyala di hatiku
Meski pada saat aku terjatuh, aku tersesat, dan kecewa
Aku tahu aku memiliki kalian di dekat ku
Kalian adalah harapan ku

Dan tidak ada yang bisa menjelaskannya lebih baik
Dan hanya ada satu kata
Satu kata
Satu kata
Satu kata
Yang ingin kukatakan pada kalian atas cinta kalian pada ku
"Terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam"

KERETA API MALAM ITU, DALAM BAYANGAN

Hahahaha.... Ni yaa, ini pengalaman pertamaku naek kereta ekonomi, gara-gara kehabisan tiket semuanya, bisa dibayangkan gerah, banyak suara-suara bising yang sebenarnya nggak aku inginkan.

Sembari menarik handuk yang tergantung di belakang pintu, kubaca beberapa deret kata yang muncul di HP ku. Tidak terasa melihat kata-kata ”dibayangkan”, pikiranku mulai terbang terbawa pada kondisi yang dialami oleh sahabatku malam itu.

Semangatnya untuk menatap masa depan mengharuskan dia untuk pergi ke jakarta. Sampai dia bela-belain naik kereta ekonomi untuk mewujudkan keinginannya itu. Pikiranku melayang pada kondisi kereta api yang dia naiki malam itu. Bisa kubayangkan kondisi penuh sesak, suara bising kereta api, juga para penjaja makanan dan minuman yang mondar-mandir disepanjang gerbong memenuhi setiap detik suasana kereta api malam itu. ”Nasi ayamm, aquaaa, pop mieee, tissuuuu, mijon-mijon”. Suara teriakan itu memenuhi bayanganku dan kupastikan suara itu pasti terpaksa harus dinikmati pula oleh sahabatku.

Seulas senyum terlontar dari bibirku. Bayanganku menggelanyang lagi pada kondisi kereta api yang dia naiki. Angin semilir memasuki gerbong tua lewat jendela kecil tepat di kanan di mana dia duduk. Dan terhembus pula angin itu sampai ke ubun-ubun. Sedikit nyaman. Setidaknya sedikit angin mampu mengalihkan kondisi riuh kereta api waktu itu.

Tepat di bawah ia duduk terlihat segerombolan orang duduk di selasar gerbong. Mereka adalah penumpang yang terpaksa duduk di selasar karena tidak kebagian tempat duduk. Tampak beberapa penumpang mengibaskan kipas yang mereka beli. Sesekali melongok jam yang ada di tangannya, juga sedikit menyingkapkan rambut yang sudah tercampur uraian keringat.

Setiap kali kereta berhenti, rasa sesak tak tertahankan muncul secara tiba-tiba. Dan saya pastikan sahabatku merasakannya. Teriakan penjaja semakin menjadi-jadi ketika kereta berhenti. Ada yang sampai mondar-mandir puluhan kali demi menjajakan dagangannya. Tak tanggung-tanggung rasa sesak itu diwarnai pula dengan gumpalan asap rokok mirip awan terbang di mana-mana. Baunya, fiuhhh bisa dipastikan tidak sedap.

Tuuut...tuuut... tuuut bunyi HP ku berdering ketika pikiranku kubiarkan melayang pada kereta api.

Kalo pas jalan, enak, adem... Trus yang jualan nggak banyak. Kalo pas berhenti gerah tenannn, yang jualan akeh banget.

Tak bisa kutahan bibir ini untuk nyengir sendirian di dalam kamarku. Kurebahkan tubuhku yang memang kurasakan dari tadi merengek-rengek pengen direbahkan sembari tangan ini menari diatas keypad HP. Tak kusadari diri ini begitu bangga dengan usaha keras sahabatku untuk menggapai apa itu yang namanya masa depan. Sahabatku, semoga engkau meraih apa yang menjadi keinginanmu. Alloh bersamamu.

Catatan perjuangan seorang sahabat.

Kamis, 10 Juni 2010

sedetik bersama "penangsang" dan sang adek "cute" :)

"Mas bagaimana cara kita menemukan inspirasi dalam menulis?" Pertanyaan itu terlontar cukup semangat dari hati. "Coba temukan inspirasi-inspirasi itu dari kejadian yang kita temui dalam keseharian". It's simple answer. Tapi, jika dimaknai dengan semangat dari hati, kata-kata ini layaknya sebuah mutiara biru bagi yang tahu.

Entahlah, kenapa keinginan untuk menulis ini berkobar dalam setiap kedipan mata. Ada rasa bersalah lebih tepatnya, melintas dalam setiap ingatan. Memang, sudah seumur jagung tumbuh keinginan menulis ini. Setelah agak lama terkubur.

Sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku merasa enggan untuk menulis. Ku stop kebiasaanku menulis apapun. Dulu fiksi, essay, perjalanan keseharian, pengalaman ironis bahkan yang tragis sekalipun aku tulis. Kini, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menulis. Aneh, aku tak menyadari hal itu hingga sekarang.

Dan sampai saatnya aku bertemu dengan "sang penangsang". Baru aku ingat bahwa selama ini aku telah melupakan kesukaanku. Hobi yang membuat imajinasiku tumbuh, hati kaya, dan tangan menjadi tebal (karena seringnya ngetik).

Hanya sedetik aku katakan, sebab aku merasa kekurangan waktu. Bertemu dengan "sang penangsang". Biar begitu, inspirasi mengalir dengan deras. Dan, hati ini merasa malu. Malu untuk membohongi diri bahwa ternyata keinginan menulis itu masih ada.

Sudah lama "semangat dari hati" tidak bergerak. Untuk mulai bermain dalam dunia yang selama ini kulupakan. Yup, dunia menulis, bermain dengan hati. Benar sekali kata-kata tokoh Mentari pada novel “9 Matahari”. Bahwa, "Roda memang berputar, namun adakala roda itu akan menjadi bocor atau kempis. Maka dari itu roda tidak bisa diputar lagi”. Eits, tunggu dulu... biarpun roda sudah tidak bisa menggelinding, setidaknya masih bisa dipindah tempatkan! Iya, bila perlu dengan diseret atau diangkat!

Dan…"Anik menulis lagi!!!".

Kuakui, dulu aku sempat kecewa dengan apa yang namanya "bermain" menulis. Aku down. Hasrat memainkan pena redup. Aku belum berusaha untuk membuat diri ini up lagi untuk menarikan pena dan mengekspresikan gelinjang dari relung hati dan pikiran lewat segores tulisan. Dan oke! aku akan membuat roda ini berpindah tempat. Akan kupaksa diri ini untuk menyeretnya!

Terima kasih "sang penangsang", yang telah menggerakkan dan membangkitkan kesadaran ini. Memulai lagi memainkan pena, mengekspresikan rasa dan mengelola pikiran dengan MENULIS.

Plok...Plok...Plok, kutepuk dada ini dengan semangat dari hati yang membara.