Rabu, 07 Juli 2010

Pesan dari Sang Bulan


Dimulai dari percakapan singkat, komunikasi yang sarat akan local wisdom, banyolan-banyolan lawas yang segar, nasehat besar yang ringan pun dimulai. Di tengah riuhnya kondisi kampus dengan wira wiri para siswa besar (mahasiswa), dosen, dan karyawan, nuansa obrolan hari itu tetap berjalan. Saya dengan tatapan mata penuh tanya yang ditunjukkan dengan guratan dahi yang tertekuk memekik pelan dengan mengawali pertanyaan “Bapak baru dari ngajar?”

“Ya beginilah menjadi tukang ngajar, pada saat ngajar ya menjadi seorang tukang, pada saat santai ya menjadi santai man” tuturnya sambil menghisap sebuah puntung yang bisa ditebak berapa panjangnya puntung itu. “Nggak pengen jadi P-Man aja pak? Kan bayarannya lebih gedhe nampang di TV” kusampaikan pertanyaan itu sembari nyengir. “Hehehehe mbak bisa saja kalau jadi P-Man nggak akan di cap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa mbak” tuturnya sembari mengangakan gerahamnya. Kami pun tertawa lepas tanpa rasa malu pada suasana sekitar nan ramai itu.

Sosok itu adalah sosok yang saya kagumi sejak awal saya masuk kuliah. Cara dia mengajarkan kami bagaimana memaknai pendidikan yang harus kami jalani di kampus yang kebanyakan orang mengatakan kampus besar ini menjadikan kami tertegun setiap saat. Dengan pembawaan yang ringan, tidak terlalu formal, tidak neko-neko, tidak mengambang-ambang di atas awan, sarat akan guyonan itu selalu mewarnai kelas kami ketika kuliah berjalan. Tidak ada keinginan apa-apa dari kami yang diajarkan oleh dia kecuali tambahan waktu ngajar dia untuk kami. Aneh memang dirasa di tengah kondisi pendidikan yang bisa dikatakan cukup memprihatinkan dan itu terjadi di Kampus besar nan megah ini. Para dosen dengan banyaknya proyek yang bisa dikatakan cukup merugikan mahasiswa karena dirasa mereka cukup terlantarkan karena ulah para dosen yang sok sibuk itu.

Warna putih yang menutupi hampir semua rambutnya itu tidak membuat dia menyerah pada umur yang senantiasa ngawe awe dia untuk berhenti dari profesinya. Profesi yang dia anggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu. Sebenarnya dia sudah cukup tersakiti bukan dengan kenyataan yang dia hadapi saat ini, kondisi dosen, kondisi siswa besar, dan apalah yang lainnya yang ada di sekitar dia, tapi lebih tepatnya dengan Kampus yang berisi beribu-ribu mahasiswa dan katanya kampus yang menawarkan multidisipliner dari berbagai ilmu.

Kuraih tasku dan tak sengaja terdekap erat-erat tas itu di dada karena saking tertariknya berdiskusi dengan dia. Mungkin dia adalah satu-satunya sosok yang dinanti-nantikan kehadirannya bagi sang penghaus ilmu. Bisa dikatakan orang langka memang. Bayangkan saja, jarang mungkin kita melihat seorang dosen yang mau menyisihkan waktunya berjam-jam hanya untuk duduk bersama seorang mahasiswa dan waktu terhabiskan hanya untuk ngobrol. Tapi bagiku, berjam-jam bersama ia tidak kukatakan hanya sebatas ngobrol, namun lebih tepatnya memanen inspirasi di gudang yang namanya gudang inspirasi. Setiap kata yang tersampaikan dari gerak mulutnya saja sudah menjadi usaha yang luar biasa baginya dengan umur yang hampir berkepala sembilan itu. Bisa dikatakan orang lawas memang jika dilihat dari banyaknya gelar yang ia peroleh sampai sekarang. “Bagaimana menghafal, membaca saja sudah enggan”. Hal itu yang senantiasa ia dengungkan ketika pembahasan sedikit menukil pada gelar yang ia peroleh. Ia memang tidak pernah bangga akan gelar yang ia peroleh, namun ketika ia teringat akan gelar itu, membuatnya selalu merasa malu dan bersalah karena baginya gelar itu adalah salah satu amanahnya orang berilmu.

“Gelar sarjana pertanian tapi tidak tahu bagaimana membuat petani di Indonesia menjadi pintar ya sama saja, tapi jika sarjana pertanian bisa membuat nelayan pintar itu baru luar biasa,” tutur beliau sembari meneguk secangkir kopi yang ada di tangannya.

“Mbak jadi sarjana sastra buat apa?” lanjutnya. Aku tertegun sesaat dengan pertanyaan yang saya rasa membuat jantung ini berhenti seketika. Tak sadar akan pertanyaan yang terlontarkan dari gerak mulutnya membuatku merasa ngelu.

“ Sebenarnya sarjana sastra bukan cita-cita ku pak” jawabku pelan.

“ Lha njuk cita-citanya siapa? Cita-cita nya mbah mu? Kok lucu sekali anda ini.” Kembali sambil mengangakan gerahamnya yang tinggal beberapa itu.

“Saya pengen menjadi sarjana sastra yang jadi psikolog pak,” jawabku sambil mengulum senyum. “Ya bapak tadi bilang Gelar sarjana pertanian tapi tidak tahu bagaimana membuat petani di Indonesia menjadi pintar ya sama saja, tapi jika sarjana pertanian bisa membuat nelayan pintar itu baru luar biasa. Berarti jika saya menjadi sarjana sastra yang bisa mengkonseling orang luar biasa dong pak,” lanjutku nyengir sembari kugerakkan kepalaku kesamping.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar