Rabu, 08 Desember 2010

REMBULAN KEPADA DAUN YANG MENJADIKANYA BERCAHAYA

Malam itu seolah menjadi malam yang tidak mengenakkan untuk sang bulan. Betapa tidak, rembulan menggantung pada langit luas. Sendirian. Tak satu pun bintang terlihat pada malam itu. Seolah perseteruan antara kedua benda antariksa itu tak jua berakhir. Bintang yang biasanya berhambur banyak dengan kilatan cahaya yang genit, malam itu tak terlihat. Sama sekali. Rembulan sayu. Merenung di hamparan langit nan luas.

Kutengok jam tangan yang masih melekat di tanganku. Jarum pendek yang mengarah pada angka 8 membuatku sadar betapa seharian kuhabiskan waktuku untuk kegiatan yang cukup menyita tenaga. Kubayangkan bantal juga guling menungguku di pulau kasur kesayanganku. Malam tiba. Itulah satu hal yang membuatku suka akhir-akhir ini. Kesukaanku sekarang beralih. Aku suka ketika malam tiba. Aku suka kondisi malam. Rasa-rasanya semua beban hilang seketika dengan satu hempasan badan di kasur.

Tuut tuut tuut bunyi suara HP seketika membuyarkan lamunanku. Kuraih tas HP ku yang masih teronggok di ujung kasur. Tas HP mungil berwarna ungu. Walaupun terlihat sudah kusut, namun tas itu berusaha kujaga. Kutaksir sudah barang 8 kali tas itu hilang dan ujung-ujungnya kutemukan kembali. Mungkin karena tekadku sangat kuat untuk tidak berniat menggantikan dengan yang baru. Saban hari tas itu selalu tergantung di leherku. Kukalungkan. Maklum pelupa tingkat tinggi. Tas yang kuketahui hasil jerih payah dari kerja paruh waktu itu diberikan sahabatku dua tahun yang lalu. Tepatnya saat ulang tahunku yang ke 20.

Kawan kita dari Bandung besok tiba di stasiun tugu jam 6 tepat fa, kau temani aku jemput mereka yah...

Sms itu membuatku bangkit dari kasur. Segera kulayangkan jariku ke keypad untuk membalas sms itu.

Oke Zay,, kita ketemu di stasiun Tugu sebelum jam 6. Berapa orang kesini Zay?

Dengan cepat sms itu terbalas.

Oke,, sekitar 6 orang fa...


Kulayangkan kembali jariku.

Pakek apa kita akan membawa mereka ke penginapan Zay??

Tuut tuut tuut sms balasan Zayin datang kembali.

Pakek gerobak aja gimana fa?? Hahahahahahah... kita nyater mobil gimana fa??

Seulum senyum memenuhi bibirku sembari kuketik sms balasan.

Pakek kereta kuda lebih baik mungkin ya Zay?? Hahahahaha...
Lu kate mereka perabot rumah tangga,, diangkut pakek gerobak...
Hehehe... oke kau urus aja yah...


Barang sedetik sms balasanpun datang.

Siippp fa.. Datang tepat waktu ya fa...
Oke.. InsyAlloh... 


Sejurus kemudian tidak ada lagi bunyi HP berdering. Zayin adalah teman organisasiku. Empat tahun yang lalu lebih tepatnya kita dipertemukan pada Diklat pertama kali masuk organisasi. Sejak awal kukenal, dia memang tidak pernah meninggalkan guyonan-guyonannya di setiap kondisi. Orang yang belum kenal dia tidak akan pernah faham perbedaan antara serius dan guyon ketika dia ngomong. In Between. Aneh memang.
***

Suasana stasiun tugu pagi buta itu dirayapi oleh banyak orang. Sliweran orang membuat tempat itu serasa penuh. Tepat di depan tembok yang membundari tempat itu, berjejer rapi becak-becak yang siap untuk atret. Beberapa tukang becak siap berdiri disamping becak milik mereka. Dengan handuk yang melilit lehernya, topi bunder yang terpasang di kepala, dan kaos oblong putih kecoklatan, mereka siap untuk memangsa orang yang keluar dari stasiun untuk menjadi konsumen mereka. Tepat di depan pintu masuk stasiun, sebuah jalan beraspal kecil melenggang. Tak tanggung-tanggung, jalan aspal kecil itupun sesak berjejal banyak kendaraan beroda dua. Ampun. Pagi-pagi buta seperti ini sudah ramai. Tanah pun masih belum terang. Rasa-rasanya tak pantas ketika kota ini menyebutkan dirinya sebagai “kota berhati nyaman”.

Aku masuk melewati pintu utama stasiun. Bergabung dengan jejalan orang berlalu lalang. Ketika memasuki koridor utama yang terletak tepat di depan parkir umum, kutahan nyeri kakiku karena aku harus berjinjit melewati sela-sela jejalan orang. Kulihat sosok orang menyunggingkan senyumnya sembari melambai-lambai. Melihat dia, serasa kekesalanku masih belum sirna. Kian bertambah malah. Dia tersenyum seolah tidak pernah melakukan kesalahan.

Aku duduk di sampingnya. Terpaksa. Tidak ada tempat duduk yang masih tersisa. Kubungkukkan badanku kedepan. Rasa pegal sudah mulai menguasai bagian belakang tubuhku. Maklum saja. Duduk di kursi tanpa sandaran memang seperti ini. Kulirik Zayin sejenak. Terlihat dia asyik dengan koran yang bertengger di tangannya. Koran memang bisa mengalihkan dunia seseorang macam Zayin. Tak seharipun dia meninggalkan koran. Pantas saja Zayin sering dijuluki berita berjalan oleh teman-temannya.
“Fa ada berita menarik ni fa” cetusnya di sela-sela lamunanku.

“Apa Zay, paling-paling berita politik yang tak henti-hentinya dibicarakan media” kujawab tanpa menolehkan mukaku ke dia.

“Lebih dari itu Fa. Sangat menarik. Tak pernah aku menemui berita macam ini”
Tertarik aku untuk melongok koran yang ada di tangannya. Berita yang termaktub di kolom kecil di pojok koran itu kuketahui berjudul ditinggal nikah kakak, seorang perempuan nekat bunuh diri dengan racun tikus. Aku malas untuk membaca berita itu. Bagiku, itu bukanlah hal menarik untuk dibaca.

“Pria yang disukai si adik ternyata menikah dengan si kakak. Masih ada saja kejadian seperti ini” celotehnya seraya mengulum senyum.

“Bisa aja Zay, depresi tingkat tinggi bisa berdampak pada keinginan sesorang untuk mengakhiri hidupnya. Dia merasa tidak kuasa untuk menghadapi kenyataan yang ada tepat di hadapannya”.

Argumenku muncul dengan sisi psikologis yang menjadi bidangku saat ini. Zayin menolehku sejenak. Tak kutanggapi tingkahnya yang cuma sesaat itu. Mataku masih menjurus pada seorang penjual rempeyek yang menjajakan dagangannya tepat di sebelah kiri pintu koridor utama.

Suara kereta api membuyarkan orang-orang yang tadinya berjejer duduk rapi di tempat tunggu. Dengan kompak mereka berdiri semua. Masing-masing menghamburkan diri menuju arah ril kereta api. Kutebak mereka adalah calon penumpang yang memutuskan tujuan ke Surabaya. Sedangkan orang-orang yang hanya menjemput, berdiri di tempat, tanpa menggerakkan satu langkah kakipun. Kesulitan untuk berjalan di tengah suasana serbuan banyak orang, mengharuskan mereka memilih untuk menunggu suasana tenang dulu untuk bergerak. Betapa tidak. Tak sedikitpun celah dapat dengan mudah ditapaki kaki.

Di tengah keramaian di sekitar kereta, kami melihat lambaian beberapa tangan yang tak sempat kuhitung berapa jumlahnya. Seraya memanggil kami berdua, mereka berjalan ke arah tempat kami berdiri. Satu orang dari mereka yang kukenal berbicara dengan tangannya. Dia mengarahkan tangannya ke arah pintu koridor masuk. Sembari mengajak beberapa teman, dia melangkah menuju pintu itu. Kamipun spontan berjalan ke arah tempat yang mereka tuju. Di depan pintu koridor itulah akhirnya kita dipertemukan oleh waktu.
***

Seharian penuh kami menemani mereka keliling Jogja. Tak satupun dari mereka berkeluh kesah tentang suasana Jogja yang waktu itu membuat keringat mereka membanjiri beberapa bagian tubuh. Dengan punggung tertutup ransel besar, mereka tidak merasa tenaga terkuras untuk itu. Binar-binar wajah tersirat bahwa mereka selalu bergairah untuk melanjutkan setiap sisi-sisi perjalanan yang ingin mereka tempuh. Sehari saja mereka ingin menghabiskan waktu di Jogja. Tak ingin satu tempatpun dari sudut-sudut Jogja terlewatkan oleh mereka. Namun, apa mau dikata. Satu hari saja tak cukup untuk bisa berkeliling Jogja. Kudengar pembicaraan Hasan, Latisya, Nurma, Cahyo, Pradi tentang keinginan mereka untuk memperpanjang keberadaan mereka di sini.

“Gimana kalau kita balik besok siang San?” Nurma menyela lengangnya suasana saat kita duduk di depan Balaikota tepat di bawah pohon beringin.

“Rasanya Nurma belum puas ini di Jogja” Cahyo mencibir.

“Dari awal kita berangkat, kita sudah memutuskan hanya sehari saja di sini Ma. Konsekuen dengan keputusan awal Ma” Hasan menimpali ucapan Cahyo.

“Kalau memang masih ingin di sini, diputuskan sekarang kan bisa. Lagian, di Jogja sehari kayaknya memang belum akan terasa feel Jogjanya. Dibutuhkan lebih dari sehari untuk itu” kusela obrolan mereka sembari kukedipkan sebelah mataku ke Nurma. Nurma membalas seraya mengacungkan satu jempol tangannya.

“Ridwan nggak ikut fa, makanya kebahagiaan kami menikmati Jogja rasanya tidak lengkap ketika satu kawan kita tak turut” kata Hasan.

“Dimana dia San?” tiba-tiba Zayin menyela.

“Sehari sebelum berangkat, berita lelayu dari kerabat di Majalengka membatalkan kepergiannya ke sini” jawab Hasan.

“Innalillaahiwainnaailaihirajiun” lantunan itu kuucapkan bersamaan dengan Zayin.

Busway yang berhenti di halte tepat di depan tempat kami semua duduk terpaksa harus menghentikan obrolan itu. Kami berduyun menuju halte. Busway yang akan mengantar kami menuju stasiun melaju sesaat ketika sesak penumpang memenuhi bus tersebut.
***

Di stasiun terlihat tidak jauh berbeda saat kami menjemput mereka tadi pagi. Lebih parah malahan. Pasalnya tidak hanya becak saja yang terlihat berjejer rapih di depan stasiun. Terdapat puluhan angkutan kuyul berwarna kuning tua juga berjejer dan berlalu lalang di jalan yang sangat sempit itu. Setelah masuk menuju tempat tunggu, tidak hanya satu dua pedagang saja yang menjajakan dagangannya di sana. Tadi pagi hanya kulihat satu pedagang rempeyek di ujung sana. Namun, sekarang kulihat puluhan pedagang rempeyek. Alas. Tak terbayangkan jika aku menjadi mereka. Setiap hari harus dihadapkan pada kondisi yang seperti ini. Sesaat kemudian bunyi sirine tanda kereta api tujuan Bandung pun datang. Di situlah kami dipisahkan oleh waktu.
***

Kuhempaskan badanku di kasur. Nyeri badan terasa sangat tak nyaman sekali. Kuelus dan kupijat kaki kananku sambil nyengir menahan rasa sakit. Seharian keliling Jogja memang kuterka akan berdampak seperti ini. Kutebak besok pagi akan kurasakan rasa nyeri dan pegal di sekujur tubuhku. Tak apalah. Akupun sebenarnya sangat menikmati hari ini bersama mereka. Kuulumkan senyum simpulku.

Sejurus kemudian kurebahkan sekujur tubuhku di kasur. Tuut tuut tuut bunyi HP berdering sesaat setelah badanku terhempas pada kasur itu. Aku tersentak bangun ketika membaca sms itu. Sms kawan dari Majalengka itu membuatku seakan ruangan di sekelilingku kian redup. Aku sedikit tak percaya dengan berita itu. Sesaat tubuhku gemetar bukan main. Secara spontan kuraih tas HP ungu pemberian Nasya. Kugenggam tas HP ungu itu dengan sangat erat. Erat sekali. Tak terasa pipiku terasa panas seketika. Rasa panas itu kemudian menjadi dingin karena aliran air mata yang berangsur-angsur keluar tak mau henti.

Hari ini diberitakan di media cetak juga Fa. Maaf baru sekarang kuberitahukan berita ini. Almarhumah akan dikuburkan besok jam 11.00. Menunggu kerabat jauh berkumpul semua.

Sms itu kuabaikan sejenak. Aku tak kuasa membaca setiap rentetan sms yang dikirimkan oleh kawanku itu. Sejurus kemudian sms Ridwan menyentakkan lamunanku seketika.

Maaf ya Syafa dan Zayin, hari ini aku tak bisa turut serta dalam perjalanan bersama kalian mengelilingi kota impian kita. Aku harus ke Majalengka berta’ziah ke tempat adik iparku.

Sekujur tubuhku lemas tak bertulang. Kulangkahkan kakiku keluar kamar menuju balkon. Tak kurasakan kakiku menginjak lantai tempatku berdiri di balkon. Aku tak bisa melihat apapun waktu itu. Yang kulihat hanyalah rembulan. Rembulan dengan sinar penuh. Menggantung di hamparan luas. Tak ada awan. Tak ada bintang. Seakan tak kulihat juga langit. Yang ada hanyalah rembulan. Kulihat juga daun. Tak kulihat warna hijau membungkus daun itu. Yang kulihat hanyalah kilatan cahaya yang terpantul dari rembulan. Tak seperti biasanya. Malam ini tak kulihat kecantikan dari kilatan cahaya pada daun itu.

Tak sengaja terlihat jarum pendek jam di tanganku menekan nomor 1. Terdengar suara klik dari kejauhan. Dan seketika rembulanpun redup. Pada jarak jauh seperti inilah aku dan Nasya dipisahkan. Oleh waktu. Kemudian bayangan wajah adikku dan Zayin tiba-tiba memenuhi kepalaku.
***

2 komentar:

  1. dunia yang begitu luas bisa berasa bgitu sempit y ya'... hmmm..

    BalasHapus
  2. nice blog..kok gk pernah diupdate lg?

    BalasHapus