Rabu, 01 Desember 2010

SEIRIS JENANG ALOT DI HARI FITRI


Gema takbir berkumandang. Memecah suasana malam yang tenang juga damai. Riuh anak kecil pun memenuhi suasana itu. Bagaikan mendapat harta karun, semua anak merasakan kebahagiaan malam fitri itu. Ada yang menyalakan kembang api, ada yang membuyarkan malam dengan dentuman mercon besar. Semua orang dimabuk kebahagiaan.

Beberapa anak menari-nari sambil membawa kembang api di tangan. Sambil mengumandangkan takbir, mereka berlonjak-lonjak ria. Tidak tahu apakah takbir yang mereka kumandangkan benar atau tidak. Yang pasti mereka merasakan kebahagia
an yang tiada tandingnya.

“Allohuwakabay, Allohuwakabay, Allohuwakabay”. Teriak sekerumunan anak.
“Maklum anak-anak, belum jelas ngucapnya”. Ujar seorang nenek berpawakan pendek dengan keriput yang sudah memenuhi sebagian badannya. Sambil nyengir ia mengulurkan sebuah besek padaku.

“Apa ini nek?terima kasih banyak” sembari kuintip besek yang berisikan jenang alot berwarna coklat tua. Jenang alot merupakan makanan khas kami saat lebaran tiba. Walaupun cara membuatnya saja membuat orang jadi sakit boyok juga terpaksa mengorbankan tidur malamnya, tapi tetap saja makanan itu menjadi makanan andalan saat lebaran tiba. Sudah ngumum. Kalau kata orang-orang.
“Kalau ndak bikin jenang alot rasanya ada yang kurang” tutur nenek sarikem sembari melontarkan seulum senyum.

Kuulumkan senyum simpulku. Segera kubawa besek tadi masuk ke dalam. Setelah kubuka beseknya, aku tergelitik untuk mencicipi jenang alot buatan nenek sarikem. Ternyata lezat juga makanan hasil kerja keras semalam. Tidak tahu apakah nenek sarikem tidur semalaman atau tidak saat membuat jenang itu. Yang kutahu, orang-orang biasanya sampai mengorbankan tidur malamnya hanya untuk sebuah jenang alot.

“Siapa nduk?” tanya ibuku.
“Nenek Sarikem bu” jawabku.
“Jenang alot?” lanjut ibu.
“Iya bu, Jenang alot satu besek dari nenek Sarikem” tuturku.
“Enak lho bu bikinan nek Sarikem”
“Iya, nenek Sarikem memang jago bikin jenang alot” ujar ibuku sambil ngaduk sayuran di panci.
“Siapa yang ngadukin jenangnya kalau nenek Sarikem aja udah sepuh. Pasti sudah ndak kuat lagi dengan tenaganya” Tanyaku.
“Ya nenek Sarikem sendiri” jawab ibuku.
“Ibu aja yang umurnya segini belum tentu masih kuat ngaduk jenang alot” lanjut ibuku.


Itulah kenapa setiap kali lebaran tiba, nenek Sarikem seringkali memberi keluarga kami jenang alot. Disamping karena keluarga kami memang sudah dekat, nenek tahu kalau ibuku tidak bisa membuat jenang alot. Luar biasa memang. Beberapa iris jenang alot dapat menyatukan hubungan persaudaraan di hari idul fitri. Setiap tahun keluarga kami dipersatukan dengan seiris jenang alot itu. Membuatnya pun dengan penuh pengorbanan dan kekuatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar