Malam itu seolah menjadi malam yang tidak mengenakkan untuk sang bulan. Betapa tidak, rembulan menggantung pada langit luas. Sendirian. Tak satu pun bintang terlihat pada malam itu. Seolah perseteruan antara kedua benda antariksa itu tak jua berakhir. Bintang yang biasanya berhambur banyak dengan kilatan cahaya yang genit, malam itu tak terlihat. Sama sekali. Rembulan sayu. Merenung di hamparan langit nan luas.
Kutengok jam tangan yang masih melekat di tanganku. Jarum pendek yang mengarah pada angka 8 membuatku sadar betapa seharian kuhabiskan waktuku untuk kegiatan yang cukup menyita tenaga. Kubayangkan bantal juga guling menungguku di pulau kasur kesayanganku. Malam tiba. Itulah satu hal yang membuatku suka akhir-akhir ini. Kesukaanku sekarang beralih. Aku suka ketika malam tiba. Aku suka kondisi malam. Rasa-rasanya semua beban hilang seketika dengan satu hempasan badan di kasur.
Tuut tuut tuut bunyi suara HP seketika membuyarkan lamunanku. Kuraih tas HP ku yang masih teronggok di ujung kasur. Tas HP mungil berwarna ungu. Walaupun terlihat sudah kusut, namun tas itu berusaha kujaga. Kutaksir sudah barang 8 kali tas itu hilang dan ujung-ujungnya kutemukan kembali. Mungkin karena tekadku sangat kuat untuk tidak berniat menggantikan dengan yang baru. Saban hari tas itu selalu tergantung di leherku. Kukalungkan. Maklum pelupa tingkat tinggi. Tas yang kuketahui hasil jerih payah dari kerja paruh waktu itu diberikan sahabatku dua tahun yang lalu. Tepatnya saat ulang tahunku yang ke 20.
Kawan kita dari Bandung besok tiba di stasiun tugu jam 6 tepat fa, kau temani aku jemput mereka yah...
Sms itu membuatku bangkit dari kasur. Segera kulayangkan jariku ke keypad untuk membalas sms itu.
Oke Zay,, kita ketemu di stasiun Tugu sebelum jam 6. Berapa orang kesini Zay?
Dengan cepat sms itu terbalas.
Oke,, sekitar 6 orang fa...
Kulayangkan kembali jariku.
Pakek apa kita akan membawa mereka ke penginapan Zay??
Tuut tuut tuut sms balasan Zayin datang kembali.
Pakek gerobak aja gimana fa?? Hahahahahahah... kita nyater mobil gimana fa??
Seulum senyum memenuhi bibirku sembari kuketik sms balasan.
Pakek kereta kuda lebih baik mungkin ya Zay?? Hahahahaha...
Lu kate mereka perabot rumah tangga,, diangkut pakek gerobak...
Hehehe... oke kau urus aja yah...
Barang sedetik sms balasanpun datang.
Siippp fa.. Datang tepat waktu ya fa...
Oke.. InsyAlloh...
Sejurus kemudian tidak ada lagi bunyi HP berdering. Zayin adalah teman organisasiku. Empat tahun yang lalu lebih tepatnya kita dipertemukan pada Diklat pertama kali masuk organisasi. Sejak awal kukenal, dia memang tidak pernah meninggalkan guyonan-guyonannya di setiap kondisi. Orang yang belum kenal dia tidak akan pernah faham perbedaan antara serius dan guyon ketika dia ngomong. In Between. Aneh memang.
***
Suasana stasiun tugu pagi buta itu dirayapi oleh banyak orang. Sliweran orang membuat tempat itu serasa penuh. Tepat di depan tembok yang membundari tempat itu, berjejer rapi becak-becak yang siap untuk atret. Beberapa tukang becak siap berdiri disamping becak milik mereka. Dengan handuk yang melilit lehernya, topi bunder yang terpasang di kepala, dan kaos oblong putih kecoklatan, mereka siap untuk memangsa orang yang keluar dari stasiun untuk menjadi konsumen mereka. Tepat di depan pintu masuk stasiun, sebuah jalan beraspal kecil melenggang. Tak tanggung-tanggung, jalan aspal kecil itupun sesak berjejal banyak kendaraan beroda dua. Ampun. Pagi-pagi buta seperti ini sudah ramai. Tanah pun masih belum terang. Rasa-rasanya tak pantas ketika kota ini menyebutkan dirinya sebagai “kota berhati nyaman”.
Aku masuk melewati pintu utama stasiun. Bergabung dengan jejalan orang berlalu lalang. Ketika memasuki koridor utama yang terletak tepat di depan parkir umum, kutahan nyeri kakiku karena aku harus berjinjit melewati sela-sela jejalan orang. Kulihat sosok orang menyunggingkan senyumnya sembari melambai-lambai. Melihat dia, serasa kekesalanku masih belum sirna. Kian bertambah malah. Dia tersenyum seolah tidak pernah melakukan kesalahan.
Aku duduk di sampingnya. Terpaksa. Tidak ada tempat duduk yang masih tersisa. Kubungkukkan badanku kedepan. Rasa pegal sudah mulai menguasai bagian belakang tubuhku. Maklum saja. Duduk di kursi tanpa sandaran memang seperti ini. Kulirik Zayin sejenak. Terlihat dia asyik dengan koran yang bertengger di tangannya. Koran memang bisa mengalihkan dunia seseorang macam Zayin. Tak seharipun dia meninggalkan koran. Pantas saja Zayin sering dijuluki berita berjalan oleh teman-temannya.
“Fa ada berita menarik ni fa” cetusnya di sela-sela lamunanku.
“Apa Zay, paling-paling berita politik yang tak henti-hentinya dibicarakan media” kujawab tanpa menolehkan mukaku ke dia.
“Lebih dari itu Fa. Sangat menarik. Tak pernah aku menemui berita macam ini”
Tertarik aku untuk melongok koran yang ada di tangannya. Berita yang termaktub di kolom kecil di pojok koran itu kuketahui berjudul ditinggal nikah kakak, seorang perempuan nekat bunuh diri dengan racun tikus. Aku malas untuk membaca berita itu. Bagiku, itu bukanlah hal menarik untuk dibaca.
“Pria yang disukai si adik ternyata menikah dengan si kakak. Masih ada saja kejadian seperti ini” celotehnya seraya mengulum senyum.
“Bisa aja Zay, depresi tingkat tinggi bisa berdampak pada keinginan sesorang untuk mengakhiri hidupnya. Dia merasa tidak kuasa untuk menghadapi kenyataan yang ada tepat di hadapannya”.
Argumenku muncul dengan sisi psikologis yang menjadi bidangku saat ini. Zayin menolehku sejenak. Tak kutanggapi tingkahnya yang cuma sesaat itu. Mataku masih menjurus pada seorang penjual rempeyek yang menjajakan dagangannya tepat di sebelah kiri pintu koridor utama.
Suara kereta api membuyarkan orang-orang yang tadinya berjejer duduk rapi di tempat tunggu. Dengan kompak mereka berdiri semua. Masing-masing menghamburkan diri menuju arah ril kereta api. Kutebak mereka adalah calon penumpang yang memutuskan tujuan ke Surabaya. Sedangkan orang-orang yang hanya menjemput, berdiri di tempat, tanpa menggerakkan satu langkah kakipun. Kesulitan untuk berjalan di tengah suasana serbuan banyak orang, mengharuskan mereka memilih untuk menunggu suasana tenang dulu untuk bergerak. Betapa tidak. Tak sedikitpun celah dapat dengan mudah ditapaki kaki.
Di tengah keramaian di sekitar kereta, kami melihat lambaian beberapa tangan yang tak sempat kuhitung berapa jumlahnya. Seraya memanggil kami berdua, mereka berjalan ke arah tempat kami berdiri. Satu orang dari mereka yang kukenal berbicara dengan tangannya. Dia mengarahkan tangannya ke arah pintu koridor masuk. Sembari mengajak beberapa teman, dia melangkah menuju pintu itu. Kamipun spontan berjalan ke arah tempat yang mereka tuju. Di depan pintu koridor itulah akhirnya kita dipertemukan oleh waktu.
***
Seharian penuh kami menemani mereka keliling Jogja. Tak satupun dari mereka berkeluh kesah tentang suasana Jogja yang waktu itu membuat keringat mereka membanjiri beberapa bagian tubuh. Dengan punggung tertutup ransel besar, mereka tidak merasa tenaga terkuras untuk itu. Binar-binar wajah tersirat bahwa mereka selalu bergairah untuk melanjutkan setiap sisi-sisi perjalanan yang ingin mereka tempuh. Sehari saja mereka ingin menghabiskan waktu di Jogja. Tak ingin satu tempatpun dari sudut-sudut Jogja terlewatkan oleh mereka. Namun, apa mau dikata. Satu hari saja tak cukup untuk bisa berkeliling Jogja. Kudengar pembicaraan Hasan, Latisya, Nurma, Cahyo, Pradi tentang keinginan mereka untuk memperpanjang keberadaan mereka di sini.
“Gimana kalau kita balik besok siang San?” Nurma menyela lengangnya suasana saat kita duduk di depan Balaikota tepat di bawah pohon beringin.
“Rasanya Nurma belum puas ini di Jogja” Cahyo mencibir.
“Dari awal kita berangkat, kita sudah memutuskan hanya sehari saja di sini Ma. Konsekuen dengan keputusan awal Ma” Hasan menimpali ucapan Cahyo.
“Kalau memang masih ingin di sini, diputuskan sekarang kan bisa. Lagian, di Jogja sehari kayaknya memang belum akan terasa feel Jogjanya. Dibutuhkan lebih dari sehari untuk itu” kusela obrolan mereka sembari kukedipkan sebelah mataku ke Nurma. Nurma membalas seraya mengacungkan satu jempol tangannya.
“Ridwan nggak ikut fa, makanya kebahagiaan kami menikmati Jogja rasanya tidak lengkap ketika satu kawan kita tak turut” kata Hasan.
“Dimana dia San?” tiba-tiba Zayin menyela.
“Sehari sebelum berangkat, berita lelayu dari kerabat di Majalengka membatalkan kepergiannya ke sini” jawab Hasan.
“Innalillaahiwainnaailaihirajiun” lantunan itu kuucapkan bersamaan dengan Zayin.
Busway yang berhenti di halte tepat di depan tempat kami semua duduk terpaksa harus menghentikan obrolan itu. Kami berduyun menuju halte. Busway yang akan mengantar kami menuju stasiun melaju sesaat ketika sesak penumpang memenuhi bus tersebut.
***
Di stasiun terlihat tidak jauh berbeda saat kami menjemput mereka tadi pagi. Lebih parah malahan. Pasalnya tidak hanya becak saja yang terlihat berjejer rapih di depan stasiun. Terdapat puluhan angkutan kuyul berwarna kuning tua juga berjejer dan berlalu lalang di jalan yang sangat sempit itu. Setelah masuk menuju tempat tunggu, tidak hanya satu dua pedagang saja yang menjajakan dagangannya di sana. Tadi pagi hanya kulihat satu pedagang rempeyek di ujung sana. Namun, sekarang kulihat puluhan pedagang rempeyek. Alas. Tak terbayangkan jika aku menjadi mereka. Setiap hari harus dihadapkan pada kondisi yang seperti ini. Sesaat kemudian bunyi sirine tanda kereta api tujuan Bandung pun datang. Di situlah kami dipisahkan oleh waktu.
***
Kuhempaskan badanku di kasur. Nyeri badan terasa sangat tak nyaman sekali. Kuelus dan kupijat kaki kananku sambil nyengir menahan rasa sakit. Seharian keliling Jogja memang kuterka akan berdampak seperti ini. Kutebak besok pagi akan kurasakan rasa nyeri dan pegal di sekujur tubuhku. Tak apalah. Akupun sebenarnya sangat menikmati hari ini bersama mereka. Kuulumkan senyum simpulku.
Sejurus kemudian kurebahkan sekujur tubuhku di kasur. Tuut tuut tuut bunyi HP berdering sesaat setelah badanku terhempas pada kasur itu. Aku tersentak bangun ketika membaca sms itu. Sms kawan dari Majalengka itu membuatku seakan ruangan di sekelilingku kian redup. Aku sedikit tak percaya dengan berita itu. Sesaat tubuhku gemetar bukan main. Secara spontan kuraih tas HP ungu pemberian Nasya. Kugenggam tas HP ungu itu dengan sangat erat. Erat sekali. Tak terasa pipiku terasa panas seketika. Rasa panas itu kemudian menjadi dingin karena aliran air mata yang berangsur-angsur keluar tak mau henti.
Hari ini diberitakan di media cetak juga Fa. Maaf baru sekarang kuberitahukan berita ini. Almarhumah akan dikuburkan besok jam 11.00. Menunggu kerabat jauh berkumpul semua.
Sms itu kuabaikan sejenak. Aku tak kuasa membaca setiap rentetan sms yang dikirimkan oleh kawanku itu. Sejurus kemudian sms Ridwan menyentakkan lamunanku seketika.
Maaf ya Syafa dan Zayin, hari ini aku tak bisa turut serta dalam perjalanan bersama kalian mengelilingi kota impian kita. Aku harus ke Majalengka berta’ziah ke tempat adik iparku.
Sekujur tubuhku lemas tak bertulang. Kulangkahkan kakiku keluar kamar menuju balkon. Tak kurasakan kakiku menginjak lantai tempatku berdiri di balkon. Aku tak bisa melihat apapun waktu itu. Yang kulihat hanyalah rembulan. Rembulan dengan sinar penuh. Menggantung di hamparan luas. Tak ada awan. Tak ada bintang. Seakan tak kulihat juga langit. Yang ada hanyalah rembulan. Kulihat juga daun. Tak kulihat warna hijau membungkus daun itu. Yang kulihat hanyalah kilatan cahaya yang terpantul dari rembulan. Tak seperti biasanya. Malam ini tak kulihat kecantikan dari kilatan cahaya pada daun itu.
Tak sengaja terlihat jarum pendek jam di tanganku menekan nomor 1. Terdengar suara klik dari kejauhan. Dan seketika rembulanpun redup. Pada jarak jauh seperti inilah aku dan Nasya dipisahkan. Oleh waktu. Kemudian bayangan wajah adikku dan Zayin tiba-tiba memenuhi kepalaku.
***
Rabu, 08 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
SEIRIS JENANG ALOT DI HARI FITRI
Gema takbir berkumandang. Memecah suasana malam yang tenang juga damai. Riuh anak kecil pun memenuhi suasana itu. Bagaikan mendapat harta karun, semua anak merasakan kebahagiaan malam fitri itu. Ada yang menyalakan kembang api, ada yang membuyarkan malam dengan dentuman mercon besar. Semua orang dimabuk kebahagiaan.
Beberapa anak menari-nari sambil membawa kembang api di tangan. Sambil mengumandangkan takbir, mereka berlonjak-lonjak ria. Tidak tahu apakah takbir yang mereka kumandangkan benar atau tidak. Yang pasti mereka merasakan kebahagia
an yang tiada tandingnya.
“Allohuwakabay, Allohuwakabay, Allohuwakabay”. Teriak sekerumunan anak.
“Maklum anak-anak, belum jelas ngucapnya”. Ujar seorang nenek berpawakan pendek dengan keriput yang sudah memenuhi sebagian badannya. Sambil nyengir ia mengulurkan sebuah besek padaku.
“Apa ini nek?terima kasih banyak” sembari kuintip besek yang berisikan jenang alot berwarna coklat tua. Jenang alot merupakan makanan khas kami saat lebaran tiba. Walaupun cara membuatnya saja membuat orang jadi sakit boyok juga terpaksa mengorbankan tidur malamnya, tapi tetap saja makanan itu menjadi makanan andalan saat lebaran tiba. Sudah ngumum. Kalau kata orang-orang.
“Kalau ndak bikin jenang alot rasanya ada yang kurang” tutur nenek sarikem sembari melontarkan seulum senyum.
Kuulumkan senyum simpulku. Segera kubawa besek tadi masuk ke dalam. Setelah kubuka beseknya, aku tergelitik untuk mencicipi jenang alot buatan nenek sarikem. Ternyata lezat juga makanan hasil kerja keras semalam. Tidak tahu apakah nenek sarikem tidur semalaman atau tidak saat membuat jenang itu. Yang kutahu, orang-orang biasanya sampai mengorbankan tidur malamnya hanya untuk sebuah jenang alot.
“Siapa nduk?” tanya ibuku.
“Nenek Sarikem bu” jawabku.
“Jenang alot?” lanjut ibu.
“Iya bu, Jenang alot satu besek dari nenek Sarikem” tuturku.
“Enak lho bu bikinan nek Sarikem”
“Iya, nenek Sarikem memang jago bikin jenang alot” ujar ibuku sambil ngaduk sayuran di panci.
“Siapa yang ngadukin jenangnya kalau nenek Sarikem aja udah sepuh. Pasti sudah ndak kuat lagi dengan tenaganya” Tanyaku.
“Ya nenek Sarikem sendiri” jawab ibuku.
“Ibu aja yang umurnya segini belum tentu masih kuat ngaduk jenang alot” lanjut ibuku.
Itulah kenapa setiap kali lebaran tiba, nenek Sarikem seringkali memberi keluarga kami jenang alot. Disamping karena keluarga kami memang sudah dekat, nenek tahu kalau ibuku tidak bisa membuat jenang alot. Luar biasa memang. Beberapa iris jenang alot dapat menyatukan hubungan persaudaraan di hari idul fitri. Setiap tahun keluarga kami dipersatukan dengan seiris jenang alot itu. Membuatnya pun dengan penuh pengorbanan dan kekuatan.
Senin, 12 Juli 2010
63 Tahun Terlalu Tua, Saatnya yang Muda Beraksi
Kongres Koperasi pertama yang diadakan di Tasikmalaya 12 Juli 1947, adalah embrio awal dari lahirnya semangat koperasi masyarakat Indonesia. Dengan memiliki tujuan mulia, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka koperasi pun didirikan. Meskipun, di era penjajahan Jepang dan Belanda sebelumnya Indonesia sudah mengenal sistem koperasi, namun tak lain koperasi di era dua penjajahan ini sangatlah menguntungkan penjajah tersebut.
Gerakan semangat memajukan kesejahteraan ekonomi masyarakat tersebut, terus bergerak terutama pada generasi muda yang perlahan ikut bergabung dalam gerakan koperasi. Kecintaan terhadap koperasi ini tercermin dari munculnya 11 butir Manifesto Gerakan Pemuda Koperasi Nasional pada tahun 2006 silam yang memiliki arti penting gerakan koperasi di kalangan pemuda. Sebuah puncak kecemasan para pemuda yang menggelutkan perjuangannya di gerakan koperasi waktu itu merupakan hal yang melatarbelakangi adanya kongres tersebut dilaksanakan.
Ketika kita lihat kondisi pemuda saat ini dalam kiprahnya di gerakan koperasi, banyak sekali pemuda-pemuda yang bergelut di dalamnya minimal di koperasi mahasiswanya masing-masing. Namun, cukup disayangkan ketika suara dari pemuda tidak cukup massif menghadapi kondisi koperasi di Negara Indonesia ini. Pemuda, sebagai agent of change di kancah gerakan koperasi Indonesia, seharusnya mempunyai sikap atas setiap perubahan yang terjadi yang melanda perkoperasian di Negaranya.
Dengan semangat Perubahan dan Nasionalisme, kami pemuda koperasi Indonesia pada di Hari Koperasi tanggal 12 Juli 2010 menyatakan:
1. Memperkuat komitmen kebangsaan dan nasionalisme;
2. Keterlibatan pemuda koperasi dalam pembahasan undang-undang koperasi;
3. Melibatkan pemuda dalam setiap pengambilan kebijakan publik;
4. Pendidikan murah untuk rakyat sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa;
5. Menuntut pihak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah stratejik guna mengurangi dominasi produk asing sebagai wujud kemandirian bangsa Indonesia;
6. Menuntut peran pemerintah dalam memperhatikan,memberdayakan, dan mem-fasilitasi berkembangnya jaringan usaha koperasi Indonesia;
7. Mengecam keras tindakan pemerintah memprivatisasi asset-aset stratejik bangsa yang menguasai hajat hidup orang banyak karena tidak sesuai amanah UUD 1945 Pasal 33 (3) dan dengan ini kami menuntut pemerintah untuk menghentikan privatisasi BUMN;
8. Meminta pemerintah untuk lebih proaktif /perhatian secara khusus kepada koperasi pemuda dalam DIKLAT koperasi/perekonomian;
9. Merekomendasikan kepada Kementrian agar melakukan sinergi dengan 16 Departemen/Kementrian yang menangani pemuda;
10. Menuntut Pemerintah untuk lebih serius menangani kasus-kasus korupsi yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara;
11. Meminta Kementrian/Departemen Pendidikan untuk memastikan stakeholder masing-masing universitas memberikan kepeduliannya terhadap koperasi mahasiswa yang ada di universitasnya masing-masing.
12. Menuntut Pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib buruh dan petani.
Gerakan semangat memajukan kesejahteraan ekonomi masyarakat tersebut, terus bergerak terutama pada generasi muda yang perlahan ikut bergabung dalam gerakan koperasi. Kecintaan terhadap koperasi ini tercermin dari munculnya 11 butir Manifesto Gerakan Pemuda Koperasi Nasional pada tahun 2006 silam yang memiliki arti penting gerakan koperasi di kalangan pemuda. Sebuah puncak kecemasan para pemuda yang menggelutkan perjuangannya di gerakan koperasi waktu itu merupakan hal yang melatarbelakangi adanya kongres tersebut dilaksanakan.
Ketika kita lihat kondisi pemuda saat ini dalam kiprahnya di gerakan koperasi, banyak sekali pemuda-pemuda yang bergelut di dalamnya minimal di koperasi mahasiswanya masing-masing. Namun, cukup disayangkan ketika suara dari pemuda tidak cukup massif menghadapi kondisi koperasi di Negara Indonesia ini. Pemuda, sebagai agent of change di kancah gerakan koperasi Indonesia, seharusnya mempunyai sikap atas setiap perubahan yang terjadi yang melanda perkoperasian di Negaranya.
Dengan semangat Perubahan dan Nasionalisme, kami pemuda koperasi Indonesia pada di Hari Koperasi tanggal 12 Juli 2010 menyatakan:
1. Memperkuat komitmen kebangsaan dan nasionalisme;
2. Keterlibatan pemuda koperasi dalam pembahasan undang-undang koperasi;
3. Melibatkan pemuda dalam setiap pengambilan kebijakan publik;
4. Pendidikan murah untuk rakyat sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa;
5. Menuntut pihak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah stratejik guna mengurangi dominasi produk asing sebagai wujud kemandirian bangsa Indonesia;
6. Menuntut peran pemerintah dalam memperhatikan,memberdayakan, dan mem-fasilitasi berkembangnya jaringan usaha koperasi Indonesia;
7. Mengecam keras tindakan pemerintah memprivatisasi asset-aset stratejik bangsa yang menguasai hajat hidup orang banyak karena tidak sesuai amanah UUD 1945 Pasal 33 (3) dan dengan ini kami menuntut pemerintah untuk menghentikan privatisasi BUMN;
8. Meminta pemerintah untuk lebih proaktif /perhatian secara khusus kepada koperasi pemuda dalam DIKLAT koperasi/perekonomian;
9. Merekomendasikan kepada Kementrian agar melakukan sinergi dengan 16 Departemen/Kementrian yang menangani pemuda;
10. Menuntut Pemerintah untuk lebih serius menangani kasus-kasus korupsi yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara;
11. Meminta Kementrian/Departemen Pendidikan untuk memastikan stakeholder masing-masing universitas memberikan kepeduliannya terhadap koperasi mahasiswa yang ada di universitasnya masing-masing.
12. Menuntut Pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib buruh dan petani.
Rabu, 07 Juli 2010
Pesan dari Sang Bulan
Dimulai dari percakapan singkat, komunikasi yang sarat akan local wisdom, banyolan-banyolan lawas yang segar, nasehat besar yang ringan pun dimulai. Di tengah riuhnya kondisi kampus dengan wira wiri para siswa besar (mahasiswa), dosen, dan karyawan, nuansa obrolan hari itu tetap berjalan. Saya dengan tatapan mata penuh tanya yang ditunjukkan dengan guratan dahi yang tertekuk memekik pelan dengan mengawali pertanyaan “Bapak baru dari ngajar?”
“Ya beginilah menjadi tukang ngajar, pada saat ngajar ya menjadi seorang tukang, pada saat santai ya menjadi santai man” tuturnya sambil menghisap sebuah puntung yang bisa ditebak berapa panjangnya puntung itu. “Nggak pengen jadi P-Man aja pak? Kan bayarannya lebih gedhe nampang di TV” kusampaikan pertanyaan itu sembari nyengir. “Hehehehe mbak bisa saja kalau jadi P-Man nggak akan di cap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa mbak” tuturnya sembari mengangakan gerahamnya. Kami pun tertawa lepas tanpa rasa malu pada suasana sekitar nan ramai itu.
Sosok itu adalah sosok yang saya kagumi sejak awal saya masuk kuliah. Cara dia mengajarkan kami bagaimana memaknai pendidikan yang harus kami jalani di kampus yang kebanyakan orang mengatakan kampus besar ini menjadikan kami tertegun setiap saat. Dengan pembawaan yang ringan, tidak terlalu formal, tidak neko-neko, tidak mengambang-ambang di atas awan, sarat akan guyonan itu selalu mewarnai kelas kami ketika kuliah berjalan. Tidak ada keinginan apa-apa dari kami yang diajarkan oleh dia kecuali tambahan waktu ngajar dia untuk kami. Aneh memang dirasa di tengah kondisi pendidikan yang bisa dikatakan cukup memprihatinkan dan itu terjadi di Kampus besar nan megah ini. Para dosen dengan banyaknya proyek yang bisa dikatakan cukup merugikan mahasiswa karena dirasa mereka cukup terlantarkan karena ulah para dosen yang sok sibuk itu.
Warna putih yang menutupi hampir semua rambutnya itu tidak membuat dia menyerah pada umur yang senantiasa ngawe awe dia untuk berhenti dari profesinya. Profesi yang dia anggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu. Sebenarnya dia sudah cukup tersakiti bukan dengan kenyataan yang dia hadapi saat ini, kondisi dosen, kondisi siswa besar, dan apalah yang lainnya yang ada di sekitar dia, tapi lebih tepatnya dengan Kampus yang berisi beribu-ribu mahasiswa dan katanya kampus yang menawarkan multidisipliner dari berbagai ilmu.
Kuraih tasku dan tak sengaja terdekap erat-erat tas itu di dada karena saking tertariknya berdiskusi dengan dia. Mungkin dia adalah satu-satunya sosok yang dinanti-nantikan kehadirannya bagi sang penghaus ilmu. Bisa dikatakan orang langka memang. Bayangkan saja, jarang mungkin kita melihat seorang dosen yang mau menyisihkan waktunya berjam-jam hanya untuk duduk bersama seorang mahasiswa dan waktu terhabiskan hanya untuk ngobrol. Tapi bagiku, berjam-jam bersama ia tidak kukatakan hanya sebatas ngobrol, namun lebih tepatnya memanen inspirasi di gudang yang namanya gudang inspirasi. Setiap kata yang tersampaikan dari gerak mulutnya saja sudah menjadi usaha yang luar biasa baginya dengan umur yang hampir berkepala sembilan itu. Bisa dikatakan orang lawas memang jika dilihat dari banyaknya gelar yang ia peroleh sampai sekarang. “Bagaimana menghafal, membaca saja sudah enggan”. Hal itu yang senantiasa ia dengungkan ketika pembahasan sedikit menukil pada gelar yang ia peroleh. Ia memang tidak pernah bangga akan gelar yang ia peroleh, namun ketika ia teringat akan gelar itu, membuatnya selalu merasa malu dan bersalah karena baginya gelar itu adalah salah satu amanahnya orang berilmu.
“Gelar sarjana pertanian tapi tidak tahu bagaimana membuat petani di Indonesia menjadi pintar ya sama saja, tapi jika sarjana pertanian bisa membuat nelayan pintar itu baru luar biasa,” tutur beliau sembari meneguk secangkir kopi yang ada di tangannya.
“Mbak jadi sarjana sastra buat apa?” lanjutnya. Aku tertegun sesaat dengan pertanyaan yang saya rasa membuat jantung ini berhenti seketika. Tak sadar akan pertanyaan yang terlontarkan dari gerak mulutnya membuatku merasa ngelu.
“ Sebenarnya sarjana sastra bukan cita-cita ku pak” jawabku pelan.
“ Lha njuk cita-citanya siapa? Cita-cita nya mbah mu? Kok lucu sekali anda ini.” Kembali sambil mengangakan gerahamnya yang tinggal beberapa itu.
“Saya pengen menjadi sarjana sastra yang jadi psikolog pak,” jawabku sambil mengulum senyum. “Ya bapak tadi bilang Gelar sarjana pertanian tapi tidak tahu bagaimana membuat petani di Indonesia menjadi pintar ya sama saja, tapi jika sarjana pertanian bisa membuat nelayan pintar itu baru luar biasa. Berarti jika saya menjadi sarjana sastra yang bisa mengkonseling orang luar biasa dong pak,” lanjutku nyengir sembari kugerakkan kepalaku kesamping.
Jumat, 11 Juni 2010
UNTUK SAHABAT-SAHABAT KU

Aku
Ingin berterima kasih sekali lagi pada kalian, karena telah mencintaiku
Walaupun
Waktu telah berlalu, dimana bertahun-tahun kita telah jadi satu
Tidak ada penjelasan karena kita semua mengerti
Tak ingin apa-apa lagi
Dunia ku terasa lebih terang karena kalian ada di sisi ku
Dan membuat hari – hari ku jadi mungkin
Kalian adalah inspirasi ku
Kalian adalah api yang menyala di hatiku
Meski pada saat aku terjatuh, aku tersesat, dan kecewa
Aku tahu aku memiliki kalian di dekat ku
Kalian adalah harapan ku
Dan tidak ada yang bisa menjelaskannya lebih baik
Dan hanya ada satu kata
Satu kata
Satu kata
Satu kata
Yang ingin kukatakan pada kalian atas cinta kalian pada ku
"Terima kasih dari lubuk hatiku yang paling dalam"
KERETA API MALAM ITU, DALAM BAYANGAN
Hahahaha.... Ni yaa, ini pengalaman pertamaku naek kereta ekonomi, gara-gara kehabisan tiket semuanya, bisa dibayangkan gerah, banyak suara-suara bising yang sebenarnya nggak aku inginkan.
Sembari menarik handuk yang tergantung di belakang pintu, kubaca beberapa deret kata yang muncul di HP ku. Tidak terasa melihat kata-kata ”dibayangkan”, pikiranku mulai terbang terbawa pada kondisi yang dialami oleh sahabatku malam itu.
Semangatnya untuk menatap masa depan mengharuskan dia untuk pergi ke jakarta. Sampai dia bela-belain naik kereta ekonomi untuk mewujudkan keinginannya itu. Pikiranku melayang pada kondisi kereta api yang dia naiki malam itu. Bisa kubayangkan kondisi penuh sesak, suara bising kereta api, juga para penjaja makanan dan minuman yang mondar-mandir disepanjang gerbong memenuhi setiap detik suasana kereta api malam itu. ”Nasi ayamm, aquaaa, pop mieee, tissuuuu, mijon-mijon”. Suara teriakan itu memenuhi bayanganku dan kupastikan suara itu pasti terpaksa harus dinikmati pula oleh sahabatku.
Seulas senyum terlontar dari bibirku. Bayanganku menggelanyang lagi pada kondisi kereta api yang dia naiki. Angin semilir memasuki gerbong tua lewat jendela kecil tepat di kanan di mana dia duduk. Dan terhembus pula angin itu sampai ke ubun-ubun. Sedikit nyaman. Setidaknya sedikit angin mampu mengalihkan kondisi riuh kereta api waktu itu.
Tepat di bawah ia duduk terlihat segerombolan orang duduk di selasar gerbong. Mereka adalah penumpang yang terpaksa duduk di selasar karena tidak kebagian tempat duduk. Tampak beberapa penumpang mengibaskan kipas yang mereka beli. Sesekali melongok jam yang ada di tangannya, juga sedikit menyingkapkan rambut yang sudah tercampur uraian keringat.
Setiap kali kereta berhenti, rasa sesak tak tertahankan muncul secara tiba-tiba. Dan saya pastikan sahabatku merasakannya. Teriakan penjaja semakin menjadi-jadi ketika kereta berhenti. Ada yang sampai mondar-mandir puluhan kali demi menjajakan dagangannya. Tak tanggung-tanggung rasa sesak itu diwarnai pula dengan gumpalan asap rokok mirip awan terbang di mana-mana. Baunya, fiuhhh bisa dipastikan tidak sedap.
Tuuut...tuuut... tuuut bunyi HP ku berdering ketika pikiranku kubiarkan melayang pada kereta api.
Kalo pas jalan, enak, adem... Trus yang jualan nggak banyak. Kalo pas berhenti gerah tenannn, yang jualan akeh banget.
Tak bisa kutahan bibir ini untuk nyengir sendirian di dalam kamarku. Kurebahkan tubuhku yang memang kurasakan dari tadi merengek-rengek pengen direbahkan sembari tangan ini menari diatas keypad HP. Tak kusadari diri ini begitu bangga dengan usaha keras sahabatku untuk menggapai apa itu yang namanya masa depan. Sahabatku, semoga engkau meraih apa yang menjadi keinginanmu. Alloh bersamamu.
Catatan perjuangan seorang sahabat.
Sembari menarik handuk yang tergantung di belakang pintu, kubaca beberapa deret kata yang muncul di HP ku. Tidak terasa melihat kata-kata ”dibayangkan”, pikiranku mulai terbang terbawa pada kondisi yang dialami oleh sahabatku malam itu.
Semangatnya untuk menatap masa depan mengharuskan dia untuk pergi ke jakarta. Sampai dia bela-belain naik kereta ekonomi untuk mewujudkan keinginannya itu. Pikiranku melayang pada kondisi kereta api yang dia naiki malam itu. Bisa kubayangkan kondisi penuh sesak, suara bising kereta api, juga para penjaja makanan dan minuman yang mondar-mandir disepanjang gerbong memenuhi setiap detik suasana kereta api malam itu. ”Nasi ayamm, aquaaa, pop mieee, tissuuuu, mijon-mijon”. Suara teriakan itu memenuhi bayanganku dan kupastikan suara itu pasti terpaksa harus dinikmati pula oleh sahabatku.
Seulas senyum terlontar dari bibirku. Bayanganku menggelanyang lagi pada kondisi kereta api yang dia naiki. Angin semilir memasuki gerbong tua lewat jendela kecil tepat di kanan di mana dia duduk. Dan terhembus pula angin itu sampai ke ubun-ubun. Sedikit nyaman. Setidaknya sedikit angin mampu mengalihkan kondisi riuh kereta api waktu itu.
Tepat di bawah ia duduk terlihat segerombolan orang duduk di selasar gerbong. Mereka adalah penumpang yang terpaksa duduk di selasar karena tidak kebagian tempat duduk. Tampak beberapa penumpang mengibaskan kipas yang mereka beli. Sesekali melongok jam yang ada di tangannya, juga sedikit menyingkapkan rambut yang sudah tercampur uraian keringat.
Setiap kali kereta berhenti, rasa sesak tak tertahankan muncul secara tiba-tiba. Dan saya pastikan sahabatku merasakannya. Teriakan penjaja semakin menjadi-jadi ketika kereta berhenti. Ada yang sampai mondar-mandir puluhan kali demi menjajakan dagangannya. Tak tanggung-tanggung rasa sesak itu diwarnai pula dengan gumpalan asap rokok mirip awan terbang di mana-mana. Baunya, fiuhhh bisa dipastikan tidak sedap.
Tuuut...tuuut... tuuut bunyi HP ku berdering ketika pikiranku kubiarkan melayang pada kereta api.
Kalo pas jalan, enak, adem... Trus yang jualan nggak banyak. Kalo pas berhenti gerah tenannn, yang jualan akeh banget.
Tak bisa kutahan bibir ini untuk nyengir sendirian di dalam kamarku. Kurebahkan tubuhku yang memang kurasakan dari tadi merengek-rengek pengen direbahkan sembari tangan ini menari diatas keypad HP. Tak kusadari diri ini begitu bangga dengan usaha keras sahabatku untuk menggapai apa itu yang namanya masa depan. Sahabatku, semoga engkau meraih apa yang menjadi keinginanmu. Alloh bersamamu.
Catatan perjuangan seorang sahabat.
Kamis, 10 Juni 2010
sedetik bersama "penangsang" dan sang adek "cute" :)
"Mas bagaimana cara kita menemukan inspirasi dalam menulis?" Pertanyaan itu terlontar cukup semangat dari hati. "Coba temukan inspirasi-inspirasi itu dari kejadian yang kita temui dalam keseharian". It's simple answer. Tapi, jika dimaknai dengan semangat dari hati, kata-kata ini layaknya sebuah mutiara biru bagi yang tahu.
Entahlah, kenapa keinginan untuk menulis ini berkobar dalam setiap kedipan mata. Ada rasa bersalah lebih tepatnya, melintas dalam setiap ingatan. Memang, sudah seumur jagung tumbuh keinginan menulis ini. Setelah agak lama terkubur.
Sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku merasa enggan untuk menulis. Ku stop kebiasaanku menulis apapun. Dulu fiksi, essay, perjalanan keseharian, pengalaman ironis bahkan yang tragis sekalipun aku tulis. Kini, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menulis. Aneh, aku tak menyadari hal itu hingga sekarang.
Dan sampai saatnya aku bertemu dengan "sang penangsang". Baru aku ingat bahwa selama ini aku telah melupakan kesukaanku. Hobi yang membuat imajinasiku tumbuh, hati kaya, dan tangan menjadi tebal (karena seringnya ngetik).
Hanya sedetik aku katakan, sebab aku merasa kekurangan waktu. Bertemu dengan "sang penangsang". Biar begitu, inspirasi mengalir dengan deras. Dan, hati ini merasa malu. Malu untuk membohongi diri bahwa ternyata keinginan menulis itu masih ada.
Sudah lama "semangat dari hati" tidak bergerak. Untuk mulai bermain dalam dunia yang selama ini kulupakan. Yup, dunia menulis, bermain dengan hati. Benar sekali kata-kata tokoh Mentari pada novel “9 Matahari”. Bahwa, "Roda memang berputar, namun adakala roda itu akan menjadi bocor atau kempis. Maka dari itu roda tidak bisa diputar lagi”. Eits, tunggu dulu... biarpun roda sudah tidak bisa menggelinding, setidaknya masih bisa dipindah tempatkan! Iya, bila perlu dengan diseret atau diangkat!
Dan…"Anik menulis lagi!!!".
Kuakui, dulu aku sempat kecewa dengan apa yang namanya "bermain" menulis. Aku down. Hasrat memainkan pena redup. Aku belum berusaha untuk membuat diri ini up lagi untuk menarikan pena dan mengekspresikan gelinjang dari relung hati dan pikiran lewat segores tulisan. Dan oke! aku akan membuat roda ini berpindah tempat. Akan kupaksa diri ini untuk menyeretnya!
Terima kasih "sang penangsang", yang telah menggerakkan dan membangkitkan kesadaran ini. Memulai lagi memainkan pena, mengekspresikan rasa dan mengelola pikiran dengan MENULIS.
Plok...Plok...Plok, kutepuk dada ini dengan semangat dari hati yang membara.
Entahlah, kenapa keinginan untuk menulis ini berkobar dalam setiap kedipan mata. Ada rasa bersalah lebih tepatnya, melintas dalam setiap ingatan. Memang, sudah seumur jagung tumbuh keinginan menulis ini. Setelah agak lama terkubur.
Sejak kejadian itu, kejadian yang membuatku merasa enggan untuk menulis. Ku stop kebiasaanku menulis apapun. Dulu fiksi, essay, perjalanan keseharian, pengalaman ironis bahkan yang tragis sekalipun aku tulis. Kini, bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali menulis. Aneh, aku tak menyadari hal itu hingga sekarang.
Dan sampai saatnya aku bertemu dengan "sang penangsang". Baru aku ingat bahwa selama ini aku telah melupakan kesukaanku. Hobi yang membuat imajinasiku tumbuh, hati kaya, dan tangan menjadi tebal (karena seringnya ngetik).
Hanya sedetik aku katakan, sebab aku merasa kekurangan waktu. Bertemu dengan "sang penangsang". Biar begitu, inspirasi mengalir dengan deras. Dan, hati ini merasa malu. Malu untuk membohongi diri bahwa ternyata keinginan menulis itu masih ada.
Sudah lama "semangat dari hati" tidak bergerak. Untuk mulai bermain dalam dunia yang selama ini kulupakan. Yup, dunia menulis, bermain dengan hati. Benar sekali kata-kata tokoh Mentari pada novel “9 Matahari”. Bahwa, "Roda memang berputar, namun adakala roda itu akan menjadi bocor atau kempis. Maka dari itu roda tidak bisa diputar lagi”. Eits, tunggu dulu... biarpun roda sudah tidak bisa menggelinding, setidaknya masih bisa dipindah tempatkan! Iya, bila perlu dengan diseret atau diangkat!
Dan…"Anik menulis lagi!!!".
Kuakui, dulu aku sempat kecewa dengan apa yang namanya "bermain" menulis. Aku down. Hasrat memainkan pena redup. Aku belum berusaha untuk membuat diri ini up lagi untuk menarikan pena dan mengekspresikan gelinjang dari relung hati dan pikiran lewat segores tulisan. Dan oke! aku akan membuat roda ini berpindah tempat. Akan kupaksa diri ini untuk menyeretnya!
Terima kasih "sang penangsang", yang telah menggerakkan dan membangkitkan kesadaran ini. Memulai lagi memainkan pena, mengekspresikan rasa dan mengelola pikiran dengan MENULIS.
Plok...Plok...Plok, kutepuk dada ini dengan semangat dari hati yang membara.
Langganan:
Komentar (Atom)
